Senin, 14 November 2011

PEMERIKSAAN TERHADAP PERSEDIAAN BARANG DAGANG


PENDAHULUAN
Saudara sedang memeriksa PT. ABC untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 19X2. Saudara telah mengadakan observasi dan tes terhadap perhitungan fisik pada tanggal tersebut. Semua barang dagangan yang diterima sampai dengan tanggal 30 Oktober 19X2 telah termasuk dalam perhitungan fisik. Daftar faktur berikut ini adalah pembelian barang dagangan yang telah dicatat dalam buku “pembelian”, masing-masing untuk bulan Oktober dan November 19X2.
JUMLAH
(dalam ribuan)

SYARAT PENYERAHAN

TANGGAL FAKTUR
TANGGAL PENERIMAAN BARANG
November:
Rp.   1.000,00
Rp.   3.120,00
Rp.   5.350,00
Rp.   4.500,00
Rp.   6.040,00
Rp.   7.530,00
Rp.   5.000,00

Oktober:
Rp.   3.000,00
Rp.   2.200,00
Rp.     925,00
Rp.   3.975,00
Rp.   2.500,00
Rp.   1.025,00
Rp.   8.600,00
Rp. 10.251,00
Rp.   3.475,00

Destination
Destination
Shipping Point
Shipping Point
Shipping Point
Shipping Point
Destination


Destination
Destination
Shipping Point
Shipping Point
Destination
Shipping Point
Shipping Point
Destination
Destination

29 Oktober
30 Oktober
28 Oktober
1 November
26 Oktober
28 Oktober
28 Oktober


20 Oktober
21 Oktober
20 Oktober
26 Oktober
3 November
26 Oktober
26 Oktober
21 Oktober
28 Oktober

5 November
31 Oktober
30 Oktober
30 Oktober
5 November
3 November
4 November


22 Oktober
23 Oktober
30 Oktober
5 November
29 Oktober
30 Oktober
30 Oktober
30 Oktober
30 Oktober




IDENTIFIKASI

Bila perusahaan menggunakan metode fisik, buatlah:
A.    Jurnal penyesuaian yang harus saudara usulkan berdasarkan data tersebut.
B.     Penyesuaian terhadap hasil penghitungan fisik.



KAJIAN PUSTAKA
v Pengertiaan Persediaan Barang
          Setiap perusahaan niaga atau industri perlu memiliki persediaan untuk menjamin kelangsungannya. Hal itu perlu dilakukan dengan menginvestasikan sejumlah uang ke dalamnya. Mereka harus mampuh mempertahankan jumlah persediaan optimum untuk menjamin kebutuhan bagi kemajuan kegiatan perusahaan, baik secara kuantitas maupun kualitas.
          Persediaan pada umumnya merupakan salah satu jenis aktiva lancar yang jumlahnya cukup besar dalam suatu perusahaan. Hal ini mudah dipahami karena persediaan merupakan faktor penting dalam menentukan kelancaran operasi perusahaan. Persediaan merupakan bentuk investasi, dari mana keuntungan (laba) itu bisa diharapkan melalui penjualan di kemudian hari. Oleh sebab itu pada kebanyakan perusahaan sejumlah minimal persediaan harus dipertahankan untuk menjamin kontinuitas dan stabilitas penjualannya.  
          Pengertian persediaan menurut beberapa ahli antara lain sebagai berikut :
Menurut Sofyan Assauri dalam buku Marihot Manullang dan Dearlina Sinaga (2005:50), menerangkan bahwa :
“Persediaan adalah sebagai suatu aktiva lancar yang meliputi barang – barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha normal atau persediaan barang – barang yang masih dalam pekerjaan proses produksi ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaanya dalam suatu proses produksi”.
Menurut Zaki Badridwan (2000:149), menerangkan  bahwa :
 “Pengertian persediaan barang secara umum istilah persediaan barang dipakai untuk menunjukan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual”.

Menurut M. Munandar dalam buku Marihot Manullang dan Dearlina Sinaga (2005:50), menerangkan bahwa :
“Persediaan adalah sebagai persediaan barang – barang (bahan - bahan) yang menjadi objek usaha pokok perusahaan”.
Menurut John J Wild, K R. Subramanyam dan Robert F Halsey (2004:265), menerangkan  bahwa : 
“Persediaan (Inventory) merupakan barang yang dijual dalam aktivitas operasi normal perusahaan”.

v Jenis-Jenis Persedian
Menurut R.Agus Sartono (2001:443) menerangkan  bahwa jenis persediaan yang ada dalam perusahaan akan tergantung pada jenis perusahaan yaitu :
1.    Perusahaan Jasa persediaan yang biasanya timbul seperti persediaaan bahan pembantu atau persediaan habis pakai, yang termasuk didalamnya adalah kertas, karton, stempel, tinta, buku kwitansi, materai.
2.    Perusahaan Manufaktur jenis persediaanya meliputi persediaan bahan pembantu, persediaan barang jadi, persediaan barang dalam proses dan persediaan bahan baku.

v Tipe-Tipe Persediaan
Menurut Lukman Syamsuddin (2000:281), menerangkan bahwa ada tiga bentuk utama dari persediaan perusahaan yaitu :
1.    Persediaan Bahan Mentah
Bahan mentah adalah merupakan yang dibeli oleh perusahaan untuk diproses menjadi barang setengah jadi dan akhirnya barang jadi atau produk akhir dari perusahaan.
2.    Persediaan Barang dalam Proses
Persediaan Barang dalam proses terdiri dari keseluruhan barang – barang yang digunakan dalam proses produksi tetapi masih membutuhkan proses lebih lanjut untuk menjadi barang yang siap untuk dijual (barang jadi).
3.    Persediaan Barang Jadi
Persediaan barang jadi adalah merupakan persediaan barang – barang yang telah selesai diproses oleh perusahaan tetapi masih belum terjual.



v Macam-Macam Persediaan
          Menurut Zulian Yamit (2003:6), menerangkan bahwa macam persediaan dapat dikategorikan dalam satu atau lebih kategori berikutnya :
1.    Persediaan pengamanan (Safety Stock)
Persediaan pengaman atau sering kali disebut butter stock adalah persediaan yang dilakukan untuk mengantisipasi unsur ketidakpastian permintaan dan penyediaan.
2.    Persediaan antisipasi (Anticipation Stock)
Persediaan antisipasi atau berjaga – jaga atau sering pula disebut stabilization stock adalah persediaan yang dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang sudah dapat diperkirakan sebelumnya.
3.    Persediaan dalam pengiriman (Transit Stock)
Persediaan dalam pengiriman atau yang sering disebut work – in – process stock adalah persediaan yang masih dalam pengiriman atau transit.

v Faktor-Faktor Menentukan Tingkat Persediaan
Menurut Manahan P. Tampubolon (2005:86) menerangkan  bahwa dalam menentukan kebijaksanaan tingkat persediaan barang secara optimal perlu diketahui faktor – faktor yang menentukan yaitu :
1.    Biaya Persediaan.
2.    Seberapa besar permintaan barang oleh pelanggan dapat diketahui? Apa bila permintaan barang dapat diketahui, maka korporasi dapat menentukan barang dalam suatu peiode.
3.    Lama penyerahan barang antara saat dipesan dengan barang tiba atu disebut sebagai lead time atau delivery time.
4.    Terdapat atau tidak ada kemungkinan untuk menunda pemenuhan dari pembeli atau disebut sebagai backlogging.
5.    Kemungkinan diperolehnya discount atas pembelian dalam jumlah yang besar

v Pengelolaan Persediaan
1.    Biaya dalam Persediaan
          Menurut R. Agus Sartono (2001:446) menerangkan  bahwa terdapat tiga jenis yang berkaitan dengan persediaan yang harus dipertimbangkan dalam menetukan persediaan yang optimal. Ketiga jenis biaya itu yaitu:
a)    Biaya Pesan (Ordering Costs)
Adalah semua biaya yang timbul sebagai akibat pemesanan. Biaya itu meliputi biaya sejak dilakukan pemesan hingga pesanan itu sampai di gudang, biaya tersebut seperti biaya persiapan, penerimaan, penecekan, penimbangan dan biaya lainnya hingga persediaan siap untuk diproses.
b)   Biaya Simpan (Carrying Costs)
Mencakup semua biaya yang dikeluarkan untuk menyimpan persediaan selama periode tertentu. Komponen biaya simpan adalah storage costs yang termasuk sewa gudang, biaya keusangan yakni penurunan nilai persediaan termasuk keusangan teknologi, juga penurunan karena perubahan bentuk fisik persediaan itu sendiri asuransi baik asuransi kebakaran maupun asuransi kehilangan, pajak, biaya dana yang diinvestasikan pada persediaan.
c)    Biaya Kehabisan Bahan (Stockout Costs)
Biaya Kehabisan Bahan, timbul pada saat perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan karena persediaan yang tidak cukup. Biaya kehabisan bahan ini meliputi biaya pesan secara cepat atau khusus dan biaya produksi karena adanya operasi ekstra.
2.    Pengawasan Persediaan
a.    Cara - Cara Pemesanan
Menurut Marihot Manullang dan Dearlina Sinaga (2005:53), menerangkan bahwa dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan persediaan, dilakukan kegiatan pemesanan. Cara pemesanan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1)   Order Point System
Order point system adalah suatu sistem atau cara pemesanan yang dilakukan ketika persediaan yang ada telah mencapai suatu titik atau tingkat tertentu.
2)   Order Cycle System
Order cycle system adalah suatu sistem pemesanan bahan dengan interval waktu yang tetap, misalnya tiap minggu atau tiap bulan.
b.    Jumlah Pemesanan Ekonomis dan Asumsinya
Menurut Marihot Manullang dan Dearlina Sinaga (2005:54), menerangkan bahwa jumlah atau besar pemesanan yang dilakukan sebaliknya juga dapat meminimalkan biaya – biaya yang timbul didalamnya. Dari biaya – biaya itu, yang sangat berpengaruh dalam penentuan jumlah pemesanan yang ekonomis hanya biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Untuk menentukan jumlah pemesanan yang ekonomis ini, kita harus berusaha memperkecil biaya – biaya pemesanan dan biaya – biaya penyimpanan. Penempatan jumlah pesanan yang ekonomis ini dapat dilakukan dengan tiga cara :
1)   Pendekatan Tabel (Tabular Approach)
Adalah penentu jumlah pemesanan yang ekonomis ini dilakukan dengan cara menyusun suatu tabel atau daftar jumlah pesanan dan jumlah biaya per tahun.
2)   Pendekatan Grafik (Graphical Approach)
Adalah dengan cara menggambarkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan dalam suatu grafik.
3)   Pendekatan Rumus (Formula Approach)
Adalah menentukan jumlah pesanan ekonomis yang menggunakan rumus – rumus matematika dapat dilaksankan dengan memakai simbol – simbol atau notasi.
c.    Persediaan Penyelamat (Safety Stock)
Menurut Marihot Manullang dan Dearlina Sinaga (2005:53), menerangkan bahwa : “Persediaan penyelamat adalah persediaan tambahan yang dilakukan untuk melindungi atau mengantisipasi terjadinya kekurangan bahan (stock out)”. (stock out) mungkin terjadi karena penggunaan bahan baku yang lebih besar dari perkiraan semula, atau keterlambatan dalam penerima bahan baku yang dipesan. Faktor – faktor yang menentukan jumlah persediaan penyelamat adalah sebagai berikut :
1)   Penggunaan bahan baku rata – rata
Salah satu dasar untuk memperkirakan penggunaan bahan baku sebelum periode tertentu, khususnya sebelum periode pemesanan, adalah rata – rata penggunaan bahan baku pada masa sebelumnya. Hal ini perlu diperhatikan karena setelah melakukan pemesanan ulang, permintaan barang sebelum barang yang dipesan datang harus dapat dipenuhi dengan menggunakan persediaan yang ada.
2)   Faktor waktu atau lead time
Adalah selisih atau jeda waktu antara saat dilakukan pemesanan sampai dengan kedatangan barang pemesanan tersebut di gudang persediaan.



d.   Reorder Point (Titik Pemesanan Kembali)
Adalah waktu minimal untuk melakukan pemesanan ulang sehingga bahan pesanan dapat diterima tepat waktu sedangkan persediaan di atas safety stock adalah sama dengan nol.

v Sistem Pengendalian Persediaan
Menurut R. Agus Sartono (2001:453-456) menerangkan  bahwa ada beberapa sistem pengendalian  yaitu :
1.  Sistem Komputernisasi
Perkembangan teknologi komputer akhir – akhir ini telah mengubah sistem pengendalian persediaan. Banyak perusahaan besar memanfaatkan komputer dalam manajemen persediaan. Dengan komputernisasi, dimungkinkan pencatatan persediaan, pengurangan dan pengolahan data persediaan dilakukan dengan cepat. Selain itu komputer dapat menyediakan data kapan harus dilakukan pesanan kembali.
2.  Sistem Just – in Time
Pada prinsipnya, metode ini hanya mensinkronkan kecepatan bagian produksi dengan bagian pengiriman.
3.  Out - Scourcing
Altenatif dalam pengendalian persediaan ini adalah dengan cara membeli dari pihak luar. Dengan cara maka perusahaan tidak perlu harus memproduksi sendiri input yang diperlukan dalam proses produksi. Alternatif membeli dari luar dan dikombinasikan dengan just – in time method akan mampuh menekan persediaan pada tingkat yang sangat rendah dan dengan demikian akan meningkatkan efesiensi dan profitabilitas perusahaan.
4.  Sistem Pengendalian ABC
Metode ABC pada prinsipnya memperhatikan faktor harga atau nilai persediaan, frekuansi pemakaian, risiko kehabisan tinggi dikelompokan ke dalam kelompok A. Kelompok ini berarti mencakup kelompok barang yang sangat penting untuk diawasi dengan seksama. Kelompok B yang mencakup barang – barang yang relatif kurang penting. Kelompok C ini memungkinkan saja secara kuantitas besar tetapi dari segi nilai relatif kecil debandingkan dengan kelompok A. dengan metode ini manajemen menitikberatkan pada kelompok A yang bernilai strategis bagi perusahaan.
5.  Material Requirement Planning (MRP)
MRP pada hakikatnya merupakan sistem informasi yang berbasis komputer untuk penjadwalan produksi dan pembelian item produksi yang bersifat dependen demamd. Informasi mengenai permintaan produk jadi, struktur dan komponen produk, waktu tunggu (lead time), serta posisi persediaan saat ini digunakan untuk meningkatkan efektivitas biaya produksi dan pembelian.


PEMBAHASAN

A.    Jurnal penyesuaian yang harus saudara usulkan berdasarkan data tersebut.

1.      Jurnal penyesuaain terhadap persediaan akhir pada bulan Oktober

Persediaan barang dagang                  Rp. 44.946,00
Harga pokok penjualan                                   Rp. 44.946,00


2.      Jurnal penyesuaain terhadap persediaan awal pada bulan November

Harga pokok penjualan                       Rp. 44.946,00
Persediaan barang dagang                              Rp. 44.946,00


3.      Jurnal penyesuaain terhadap persediaan akhir pada bulan November

Persediaan barang dagang                  Rp. 68.491,00
Harga pokok penjualan                                   Rp. 68.491,00





B.     Penyesuaian terhadap hasil penghitungan fisik.
JUMLAH
(dalam ribuan)

SYARAT PENYERAHAN

TANGGAL FAKTUR
TANGGAL PENERIMAAN BARANG
OKTOBER
Pembelian :
Rp.   3.000,00
Rp.   2.200,00
Rp.   2.500,00
Rp.     925,00
Rp.   1.025,00
Rp.   8.600,00
Rp. 10.251,00
Rp.   3.475,00
Rp.   5.350,00
Rp.   4.500,00
Rp.   3.120,00
Rp. 44.946,00

 

NOVEMBER
Saldo awal :
Rp. 44.946,00
Pembelian :
Rp.   7.530,00
Rp.   5.000,00
Rp.   1.000,00
Rp.   6.040,00
Rp.   3.975,00
Rp. 23.545,00
Saldo akhir :
Rp. 68.491,00

Destination
Destination
Destination
Shipping Point
Shipping Point
Shipping Point
Destination
Destination
Shipping Point
Shipping Point
Destination








Shipping Point
Destination
Destination
Shipping Point
Shipping Point

20 Oktober
21 Oktober
3 November
20 Oktober
26 Oktober
26 Oktober
21 Oktober
28 Oktober
28 Oktober
1 November
30 Oktober








28 Oktober
28 Oktober
29 Oktober
26 Oktober
26 Oktober

22 Oktober
23 Oktober
29 Oktober
30 Oktober
30 Oktober
30 Oktober
30 Oktober
30 Oktober
30 Oktober
30 Oktober
31 Oktober








3 November
4 November
5 November
5 November
5 November

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi yang berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum atau universal.
Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi.
  • Corak berpikir deduktif: silogisme kategorial, silogisme hipotetis, silogisme alternative atau entimen.Dalam penalaran deduktif terdapat premis. Yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan
  • Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
  • Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis. Penarikan tidak langsung ditarik dari dua premis.
  • Premis pertama adalah premis yang bersifat umum sedangkan premis kedua adalah yang bersifat khusus.
Contoh penalaran deduktif:
Semua manusia pasti mati (premis mayor)
Danu adalah manusia. (premis minor)
Danu pasti mati. (kesimpulan)
Jenis penalaran deduktif yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu
  1. Silogisme Kategorial
  2. Silogisme Hipotesis
  3. Silogisme Akternatif
  4. Entimen.
Silogisme adalah suatu bentuk proses penalaran yang berusaha menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan proposisi ketiga.
a. Silogisme Kategorial
Silogisme Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
Premis umum : Premis Mayor (My)
Premis khusus : Premis Minor (Mn)
Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut:
1)      Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah.
2)      Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
3)      Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4)      Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
5)      Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
6)      Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7)      Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
8)      Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh silogisme Kategorial:
My       : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
Mn       : Badu adalah mahasiswa
K          : Badu lulusan SLTA
My       : Semua mahasiswa memiliki ijazah SLTA.
Mn       : Amir tidak memiliki ijazah SLTA
K          : Amir bukan mahasiswa
b. Silogisme Hipotesis
Silogisme Hipotesis : Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh :
My       : Jika tidak ada air, manusia akan kehausan.
Mn       : Air tidak ada.
K          : Jadi, Manusia  akan kehausan.
My       : Jika tidak ada udara, makhluk hidup akan mati.
Mn       : Makhluk hidup itu mati.K     : Makhluk hidup itu tidak mendapat udara.
c. Silogisme Alternatif
Silogisme Alternatif  : Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh
My       : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn       : Nenek Sumi berada di Bandung.
K          : Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
My       : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn       : Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
K           : Jadi, Nenek Sumi berada di Bandung.
d. Entimen
Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh entimen:
1)      Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
2)      Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.

Sumber :  http://viallyhardi.wordpress.com/2011/02/21/penalaran-deduktif/

Minggu, 09 Oktober 2011

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP KEHIDUPAN PRIBADI


PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP KEHIDUPAN PRIBADI
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri).
Dalam kesempatan ini, saya akan membahas tentang pengaruh lingkungan sekitar terhadap kehidupan pribadi seorang manusia. Setiap manusia pasti memiliki kehidupan yang beragam, unik dan memiliki ciri-ciri khusus. Pribadi seseorang menyangkut berbagai aspek, antara lain aspek emosional, sosial psikologis dan sosial budaya, dan kemampuan intelektual yang terpadu secara integrativ dengan faktor lingkungan kehidupan. Pada awal kehidupannya dalam rangka menuju pola kehidupan pribadi yang lebih mantap, Seorang individu berupaya untuk mampu mandiri, dalam arti mampu mengurus diri sendiri sampai dengan mengatur dan memenuhi kebutuhan serta tugasnya sehari-hari. Karena manusia termasuk ke dalam makhluk sosial, mereka tidak bisa hidup sendirian dan harus berdampingan dengan orang lain. Untuk menuju pola kehidupan pribadi yang lebih mantap, juga tidak bisa dicapai dengan sendirinya. Harus ada individu lain yang mempengaruhinya sehingga terbentuk kepribadian yang tertanam di dalam hatinya.
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar.
Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai pengalaman, Karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.
Seseorang individu, pertama tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga. Sesuai dengan tugas keluarga dalam melaksanakan misinya sebagai penyelenggara pendidikan yang bertanggung jawab, mengutamakan pembentukan pribadi anak. Dengan demikian, faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pribadi anak adalah kehidupan keluarga beserta berbagai aspeknya. Perkembangan anak yang menyangkut perkembangan psikofisis dipengaruhi oleh : status sosial ekonomi, fisafat hidup keluarga, dan pola hidup keluarga seperti kedisiplinan, kepedulian terhadap kesehatan, dan ketertiban termasuk ketertiban menjalankan ajaran agama.
Contohnya ketika dalam keluarga terdapat hanya 1 anak, mereka seharusnya tidak memanjakan anak tersebut karena kedepannya akan tertanam sifat manja dan tidak mau berusaha karena keinginannya sudah terkabulkan sejak kecil. Juga tidak akan menumbuhkan rasa tanggung jawab kedepannya.
Karena lingkungan mempengaruhi kepribadian individu maka sejak kecil sebaiknya suatu keluarga mendidik anaknya tersebut dengan sifat – sifat yang baik sehingga kedepannya akan terbentuk kepribadian yang baik pada masing – masing individu.
Namun, tidak selamanya orang tua bisa memantau perilaku anak-anaknya, apalagi ketika anaknya sedang di luar rumah. Ini lah lingkungan yang paling berbahaya. Bila kita tidak mempunyai keteguhan hati yang kuat, maka kita akan mudah terjerumus ke dalam lingkungan yang negative. Subjek yang paling berbahaya dalam hal ini adalah remaja. Secara psikologis remaja telah cukup mampu untuk memikul tanggung jawab dan hidup mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi tidak semua remaja siap menghadapi kondisi masyarakat yang terus berkembang sehingga mereka belum memiliki konsep kehidupan masa depan. Hal ini akan berakibat mereka akan tampak tidak memiliki pendirian dan mengalami kesulitan memilih jenis pekerjaan serta tergantung kepada kelompok.
Lingkungan dapat membuat individu sebagai makhluk social. Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi, sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya.
Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya, akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya.
Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja, walaupun diberinya cukup makanan dan minuman, akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa, canggung pemalu dan lain-lain. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik, maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali.
Maka dari itu, persiapkan diri Anda sebelum Anda benar-benar menghadapi lingkungan social. Siapkan iman dan keteguhan hati agar Anda tidak terjerumus dalam pergaulan yang negative. Semoga artikel ini memberikan manfaat baik untuk pembaca maupun untuk saya pribadi.


Sumber :








PENALARAN INDUKTIF

PENALARAN INDUKTIF

Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, alumunium, tembaga dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanaskan akan bertambah panjang. Biasanya penalaran induktif ini disusun berdasarkan pengetahuan yang dianut oleh penganut empirisme.
Beberapa definisi Penalaran menurut para ahli:
  • Keraf (1985: 5) berpendapat bahwa Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu kesimpulan.
  • Bakry (1986: 1) menyatakan bahwa Penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.
  • Suriasumantri (2001: 42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.
Penalaran terdiri dari dua macam, yaitu:
  • Penalaran Induktif
  • Penalaran Deduktif.
Secara formal, induktif dapat dibatasi sebagai proses bernalar untuk mengambil suatu keputusan, prinsip, atau sikap yang bersifat umum maupun khusus berdasarkan pengamatan atau hal-hal khusus.
Penalaran Induktif dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Generalisasi
Proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tersebut.
Generalisasi terdiri dari 2 jenis, yaitu:
1. Loncatan induktif:
fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
2. Tanpa loncatan induktif:
fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
Contoh 1 Generalisasi:
·        Chelsea Olivia adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
·        Nia Ramadhani adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
Contoh 2 Generalisasi:
Semua bintang sinetron berparas cantik. Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.

Contoh kesalahannya:
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.
2. Analogi
Proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk satu hal berlaku juga untuk hal lain.
Tujuan dari Analogi adalah:
  • Meramalkan kesamaan
  • Menyingkapkan kekeliruan
  • Menyusun sebuah klasifikasi.
Contoh 1 analogi:
Nina adalah lulusan Akademi Amanah.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan Akademi Amanah.
Oleh Sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Contoh 2 analogi :
Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
3. Hubungan Kausal
Penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.
Hubungan kausal dapat terjadi dalam tiga pola:
  • Sebab ke akibat : mula-mula bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai sebab yang sudah diketahui, kemudian bergerak maju menuju pada kesimpulan sebagai akibat yang terdekat.
  • Akibat ke sebab : suatu proses berpikir yang bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai akibat yang diketahui, kemudian bergerak menuju ke sebab-sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat tersebut.
  • Akibat ke akibat : suatu proses penalaran yang bertolak dari suatu akibat menuju akibat yang lain, tanpa menyebut atau mencari sebab umum yang menimbulkan kedua akibat itu.
Contoh Kausal :
Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.

Sumber:



Senin, 23 Mei 2011

Harga pengorbanan seorang ibu

Ada suatu keluarga yang terdiri dari ibu, ayah dan dua orang anak perempuan. Anak pertama bernama indah, saat itu dia berumur 10 tahun. Dan adiknya bernama putri, saat itu masih balita.
Indah merupakan anak yang rajin membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Karena ibunya sibuk mengurus adiknya.
Indah tidak pernah mengatakan "tidak" pada saat disuruh oleh ibunya. Ibunya pun sangat bangga oleh Indah.
Suatu hari, mereka sedang makan malam bersama. Indah dengan keragu raguan berkata kepada ibunya "bu, ada yg mau indah kasih ke ibu". Ibunya bertanya "apa itu indah". Lalu indah memberikan selembar kertas yang berisi suatu tulisan. Setelah memberi kertas itu, Indah langsung pergi meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.
Kemudian sang ibu membaca tulisan yang ada di kertas itu. Tulisannya adalah :
" Daftar harga yang harus ibu bayar ke indah :
1. Membuang sampah Rp. 5000
2. Menjaga Adik Rp. 5000
3. Membersihkan rumah Rp. 5000
4. Pergi ke warung Rp. 5000 "
ibunya tersenyum setelah membaca tulisan tersebut.
Saat pagi menjelang, Indah baru bangun dari tidurnya. Di atas meja terdapat selembar kertas yg berisi suatu tulisan. Ternyata itu merupakan surat balasan dari ibu atas surat yang semalam. Lalu Indah membaca surat tersebut.
"Daftar harga yang harus indah bayar ke Ibu:
1. Upah mengandung selama 9 bulan ( GRATIS )
2. Upah menjaga indah semalaman ( GRATIS )
3. Upah menyusui indah ( GRATIS )"
Indah sedih setelah membaca tulisan tersebut.
Subhanallah... Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu tak akan pernah bisa dibayar berapapun.